Jelang Harlah Ke-101, PBNU Gelar Istighotsah di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Yogyakarta, sunanpandanaran.com– Jelang acara puncak Hari Lahir (Harlah) ke-101 Nahdlatul Ulama, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini kembali hadir dengan menggelar sejumlah acara yang berpusat di Yogyakarta. Kegiatan Harlah ini akan berlangsung selama 4 hari, dimulai dari tanggal 28-31 Januari 2024. Rangkaian acara ini diawali dengan acara istighotsah dan doa bersama di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran pada Ahad (1/28/2014).

Bertempat di Hall Al-Jauharoh kegiatan ini dihadiri oleh segenap dzurriyah Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak. Turut hadir pula Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Rais syuriah pengurus wilayah NU Kiai Mas’ud Masduqi, PWNU, PCNU, dan segenap para Masyayikh.

Para Masyayikh terlihat duduk bersejajar dan saling melantunkan doa dengan diikuti ratusan santri,  istighotsah ini dilakukan 101 kali khataman dengan menyajikan 101 tumpeng untuk dinikmati bersama.

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa didirikannya Nahdlatul Ulama sebagai niat akhirat untuk mewujudkan harapan-harapan umat dengan berupaya melaksanakana tuntuntan-tuntunan sesuai syariat.

“NU ini didirikan untuk niat akhirat, didirikan dengan harapan-harapan akhirat dengan cara mengupayakan pelaksanaan tuntunan tuntunan agama Allah”. Kata Yahya Cholil Staquf pada Ahad (28/1/2024).

“Istighotsah kita pada hari ini, mari kita jadikan tonggak permulaan atau sebetulnya bukan permulaan. Karena sebelumnya istighotsah ini sudah menjadi kegiatan sehari-hari tetapi kita jadikan sebagai penanda hari lahir Nahdatul Ulama’ ke-101, sesudah ini kita akan terus istighotsah demi kemaslahatan Nahdlatul Ulama’, maslahat Negara Indonesia, dan Maslahat Umat Manusia”. Lanjutnya.

Diakhir sambutannya Ketua Umum PBNU ini memberikan pesan kepada para santri. “Pelajarilah Nahdlatul Ulama dan jangan berhenti belajar (jangan keminter) kalau sudah keminter berarti sudah bosan belajar”.

Acara selanjunya pembacaan doa yang dipimpin oleh KH Miftachul Akhyar dan Achmad Said Asrori, kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh KH Miftachul Akhyar. Potongan tumpeng yang pertama diserahkan untuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, lalu potongan kedua diserahkan kepada Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, dan potongan ketiga diserahkan kepada KH Mu’tashim Billah, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Sesi terakhir dilanjutkan foto bersama dengan diiringi shalawat hadrah Pandanaran.

Penulis: Safinatul Maghfiroh

Pembacaan do’a istighotsah oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftakhul Akhyar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *